"Mbak, nanti datang ya ke rumah Ibu, ada acara Kenduri" ucap Ibu Zaenab yang ngga sengaja papasan depan rumah.
"InsyaAllah ya bu, maaf sebelumnya kenduri itu apa ya?" dengan sangat hati-hati Aku bertanya, takut salah kostum.
"Ini, pengajian aja karena Ibu saya meninggal" Ibu Zaenab menjawab dengan buru-buru karena di rumahnya sedang sibuk.
Percakapan diatas dapat Aku simpulkan bahwa kenduri adalah tahlilan dalam versi orang Tasik. Ibunya meninggal, anaknya ngadain pengajian. Oke sip, pake baju gamis, bawa amplop uang duka dan yang paling penting siapin mental. Terlihat hampir semua warga kampung pada keluar rumah dan bergegas ke rumah Ibu Zaenab. Secepat kilat Aku siap-siap dan berangkat ke rumahnya. Menurut Aku, jarak dari rumahku ke rumah bu Zaenab itu dekat ya sekitar 300 meter. Tapi, salah satu ciri khas orang sana adalah selalu memakai motor meskipun itu ke warung. Aduh, lebih baik jalan kaki daripada Aku pake si bektu Haha.
Degdegan banget, takut kalau mengunjungi orang meninggal tapi jasadnya masih ada. Malemnya suka gabisa tidur. Tapi yaaa harus kuat mental nih, sebagai pendatang baru ya jangan banyak tingkahnya tar malah dijauhin. Rumah Bu Zaenab udah penuh dengan orang-orang, anak kecil, orang dewasa, perempuan ataupun laki-laki.
"Ayo sini mbak duduk, makan ya..." Bu Zaenab menyambut Aku yang baru tiba di depan rumahnya.
"Iya bu, makasih banyak..." dengan heran justru saat itu Aku mencari-cari dimana jasad Ibunya Bu Zaenab. (Loh bukannya takut Tres? haha Ngga, ini sedikit anomali, vibes tahlilan ini terlihat sedikit ceria seperti hajatan).
Orang-orang duduk melingkar berkelompok 5 sampai 6 orang untuk satu lingkaran. Aku mencoba duduk random di antara ibu-ibu itu. Kemudian Bu Zaenab membawa nampan berisikan nasi lengkap dengan lauk pauknya. Wait, lebih tepatnya Nasi dan berbagai jenis menu Ikan tongkol haha
"Aok lah makan Tres! Awak suke tak ikan simbek (tongkol)? di Bandung ni ikan simbek lah mati bekali-kali, disini Kami makan simbek fresh. Wan, Kami makan ye" Ujar ibu-ibu dipinggir dengan logat Natuna meminta izin makan ke Ibu Zaenab.
"Bu, saya makan ya, terimakasih banyak..." Aku ikut meminta izin dan berterimakasih.
Tolong lah, ini ko kenapa bahagia sekali malah makan-makan, jasad si ibunya dimana? Apakah sudah dikuburkan? Apakah masih di mesjid? Ini harus di klarifikasi, Aku udah gabisa nahan pertanyaan di kepala, malah takutnya gabisa tidur buka karena lihat jasad orang meninggal, tapi karena penasaran.
"Bu, maaf, ibunya Bu Zaenab ini sudah dikuburkan?" Bisikku ke Ibu-ibu di pinggir.
"Hahaha, Tres! Ibunya udah meninggal 5 tahun yang lalu. Ini sedekah anaknya untuk mengenang Ibunya meninggal". Ibu itu menjelaskan.
"Oooh... Jadi kenduri ini artinya sedekah mengenang hari meninggalnya keluarga gitu ya bu..." Jawabku dengan mencoba memahami situasi ceria ini.
"Iya betul, yok lah makan jek" Ibu itu bersemangat mengambil sepotong ikan tongkol dan daun singkong.
Suasana sesak dan rame orang makan-makan membuat Aku malu dengan diriku sendiri. Orang Natuna selalu berusaha berbakti kepada orang tuanya, meskipun sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Sedekah makanan dan minuman itu banyak berkahnya, mereka berharap berkah dan kebaikan itu sampai kepada orang tua mereka.
Amplop untuk uang duka Aku bawa pulang lagi karena ternyata kita cuma disuruh makan-makan aja disana. Nasi pera, Ikan tongkol balado dan pisang goreng menjadi menu andalan di setiap Kenduri. Oke siap, besok Kenduri dimana lagi nih? Haha

No comments:
Post a Comment