"Mau nikah ah udah capek kuliah"
"Pengen nikah aja, biar ada yang biayain"
"Nafkahin aku Mas"
Sederet kamus perempuan yang tidak ada di barisan kamus hidup aku. Hal itu adalah akumulasi atas pelajaran kehidupan yang aku dapatkan selama ini. Berawal dari pergulatan diri ketika menyadari sebagai anak kedua yang mana itu berkat sekaligus kesialan dalam hidup. Aku harus lebih menyadari bahwa Kakak menjadi prioritas utama dan adik menjadi pusat kasih sayang keluarga. Sedang Aku berada ditengah-tengah mengamati dan seringkali terabaikan.
Terbiasa mandiri dan mengalah. Jika aku bikin pivot table dimana terdapat data kata-kata yang paling sering aku ucapkan, maka kata "Yaudah" dan "Gapapa" menjadi penggunaan kata dengan jumlah paling banyak. Haha Anyway, let's move forward.
Alpha female is a woman who has embraced her leadership ambitions. She is talented, highly motivated, and self-confident. Female alphas embrace their confidence and this helps them lead others. (begitu kata google hehe)
Satu hal yang dulu aku diskusikan dengan pasangan sebelum menikah. "Kamu masalah ga kalau aku kejar karir aku?". Jawabannya pasti tau lah ya, dia bilang ga masalah, makanya bisa sampe nikah. Adjustment yang kita lakukan selama 5 tahun pacaran, bertukar pemikiran dan saling copy paste kebiasaan. Lama-lama aku melihat diri aku ada di dia, begitupun sebaliknya. The way we think about facing our life. Ternyata, itu jadi bom waktu dimana alpha female gabisa bersama dengan alpha male. Pada dasarnya, laki-laki memang ingin lebih unggul dan punya harga diri tinggi. It's okay, very normal.
Aku selalu membuka ruang diskusi daripada mendengarkan pepatah sepihak. Jika ada masalah, aku si alpha female ini selalu take a lead buat ngajak duduk bersama dan mencoba meruntut apa yang sebenarnya terjadi dan solusi apa yang harus dilakukan. Sampai pada akhirnya, hubungan ini akan selalu berdasarkan pertimbangan aku. Dia selalu meyakini bahwa keputusan aku tidak pernah gegabah dan selalu melalui pertimbangan berkali-kali. (Itu dulu, sekarang? serampangan dan tidak stabil)
I have an audacity to take a risk. Hidup yang hanging by a thread ini sebetulnya mempunyai banyak risiko. Aku menyadari bahwa ada beberapa takdir yang hanya bisa kita biarkan begitu saja saking keputusan Tuhan tidak bisa diganggu gugat. Pilihannya yaudah jalani aja dengan risiko yang mungkin kita dapatkan.
Terkesan kaku dan difficult to reach out, aku sudah terbiasa dengan opini seperti itu. I don't even care. Tapi agak selfish ya? hehehe. I don't want to waste my time anymore. Enough for me. If you need someone who has stable life goals then hold my hand, let's grey and old together!.

No comments:
Post a Comment