"Umur 27 tahun udah punya apa dan ngapain aja?"
"Nikah maksimal umur 25 tahun"
"Jadi karyawan tetap di umur 28 tahun"
"Harus punya bisnis di umur 20 tahun"
"Punya anak jangan lebih dari umur 30 tahun"
"Punya mobil dan rumah di umur 35 tahun"
Manusia selalu mengunci dirinya dengan konsep waktu. Gara-gara neokorteks sialan. Neokorteks terbungkus di sekitar bagian atas dan sisi sistem limbic, yang membentuk 80% dari materi otak. Bagian otak ini merupakan tempat bersemayamnya kecerdasan manusia. Inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui pengelihatan, pendengaran, dan sensasi tubuh. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir secara intelektual, pembuatan keputusan, perilaku waras, bahasa, kendali motorik sadar, dan penciptaan gagasan nonverbal. Dalam neokorteks, semua kecerdasan yang lebih tinggi berada, yang membantu manusia unik sebagai spesies (Hadianto, dkk, 2007). Secara sederhana Neokorteks adalah bagian otak luar dan bertanggung jawab atas konsep waktu dan lainnya.
Proses kehidupan yang dijalani dengan standar-standar yang diterapkan di masyarakat secara sadar ataupun tidak akan terekam dalam memori manusia. Hal itu membuat penyesuaian bahwa hidup akan terukur dari standar dan pencapaian orang lain. Manusia menjadi cepat lelah, bosan, stress, depresi dan bergelut dengan luka masa lalu serta khawatir akan masa depan.
Kehidupan selanjutnya, aku akan antri di barisan calon-calon majikan manusia yaitu Kucing. Kucing adalah makhluk yang tidak mempunyai neokorteks. Jadi, mereka tidak merasa bosan atau depresi meskipun makanan mereka sama atau melakukan kegiatan yang sama setiap hari. Mereka tidak punya masa lalu ataupun masa depan.
Saat ini aku merasa mengejar sesuatu yang bahkan aku tidak tahu kepuasan apa yang akan tercapai. Banyak yang sudah menikah dan punya anak, menjadi karyawan tetap, mendapat gelar magister, gaji 2 digit, kendaraan roda empat, rumah lantai 2 dan hal lainnya yang menjadi standar kesuksesan menurut manusia. Proses pendewasaan diri yang terkesan terlalu Tuhan paksakan ini membuat aku sedikit memilah kiranya apa saja yang bisa aku capai dan bisa aku tunda. Satu-satu saja, melangkah pun akan lebih nyaman ketika bergantian antara kaki kanan dan kiri. Yaaaa jika kaki kanan dan kiri bergerak berbarengan, mungkin artinya sudah menjadi spesies pocong. hehe
Berusaha berdamai dengan masa lalu dan tidak terlalu mengkhawatirkan masa depan. Seseorang berkata bahwa saat Aku dalam kandungan, Aku diperlihatkan perjalanan dari mulai lahir sampai meninggal, ditanya berkali-kali apakah Aku sanggup atau ngga dan Aku asumsikan saat itu Aku bilang sanggup. Makanya, saat ini Aku bisa nulis blog dan berbagi sedikit pemikiranku (Terimakasih ya atas setiap kata-kata yang menenangkan). Rekaman yang Tuhan perlihatkan saat itu menjadikan kita merasakan Dejavu. Kita merasa pernah disuatu tempat, berbicara dengan orang lain, mengalami hal ini dan itu ya karena kita pernah melihat itu di masa lalu.
Degdegan, bentar lagi umur udah 27 aja.
Nah kan, baru aja nulis agak berat tentang konsep waktu, tetep aja mikirin umur.

No comments:
Post a Comment