Wednesday, May 15, 2024

Satu Like Bermakna.

Hari ini, sesuatu membawaku ke masa dimana kesedihan tak berujung ini dimulai.

Hey, how are you there?

Aku minta maaf ya, harusnya kamu masih hidup dan menjalani hidup bahagia bersama suamiku.

Harusnya bukan aku.

Aku kadang membayangkan, kiranya aku akan jadi apa jika bercerai dan hidup sendiri.

Mungkin saat ini aku menjalani hidup yang berbeda.

Sendiri, tabungan yang banyak, traveling, beres S2 cumlaude.

Sedikit demi sedikit dengan air mata yang membersamai, aku akan terus berjalan dan bertumbuh.

Mungkin, tidak akan ada kekhawatiran dalam diriku seperti hari ini. Aku takut diselingkuhi lagi.

Tapi pastinya, kamu akan hidup bahagia dengan suamiku.

Mulai meniti hidup kalian dan saling bersandar. 

Tentunya dengan bercumbu setiap hari seperti yang kalian impikan.

Aku iri. Bahkan dengan membacanya, aku sudah membayangkan hidup yang bahagia dan menarik.

Hari ini aku melihat suamiku install aplikasi yang mana like foto profil kamu yang cantik itu.

Aku iri dengan kalian yang saling memperjuangkan dan diusahakan. Saling mengagumi.

Aku selalu berharap jika kita akan dilahirkan kembali, aku ingintakdir berbeda. Aku berdoa kalian bertemu dalam takdir yang indah, bersama dan berakhir bahagia.

Sementara aku, aku ingin takdir lain.

Aku ingin memperbaiki diri, aku ingin diriku yang berbeda, aku tidak ingin bertemu mantan ku pas SMA, aku tidak mau bertemu suamiku juga. Juga, aku tidak mau mempunyai takdir bersinggungan denganmu.

Aku selalu merasa sepi.

Semakin sini aku merasa kosong.

Suamiku udah mulai kembali ke habit nya yang dulu, main hape dan laptop secara sembunyi sembunyi. Entah apa yang di lakukannya.

Suasana takut dan mencekam setiap malam menyelimutiku.

Aku takut.

Berandai kita bertukar tempat, sehingga aku tidak akan mengalami ketakutan ini setiap malamnya.

Hari ini, suamiku bilang aku sombong dan sok tau.

Dan katanya ini sudah berlangsung dari dulu.

Aku yakin, suamiku emang memendam sesuatu yang dia tidak bisa bicarakan denganku. Hanya denganmu dia bisa terbuka, bukan bersamaku.

Aku merasa bersalah atas semua yang terjadi.

Friday, February 16, 2024

Timeline kita yang berbeda.

    Aku merasa tidak pernah menyesali keputusanku, menjadi orang bertanggung jawab adalah hal yang selalu aku tanamkan dalam diriku.

    Pada umur 24 tahun, aku memutuskan menikah. Saat itu aku merasa tidak ada yang salah. Aku mengambil satu tanggung jawab yang aku harus jalani, sungguh-sungguh. Tidak pernah sekalipun aku merasa belum siap atau bahkan menyesali keputusanku.

    Aku berusaha menjadi istri yang baik yang mendukung suaminya. Aku ikut kemanapun dia pergi dan aku sangat berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku berusaha bekerja, mencari kesibukan sendiri. Siapa bilang itu mudah? dengan aku bisa melewatinya bukan berarti itu tidak sulit untuk dijalani.

    Hingga sampai pada suatu momen yang mana dia berkata bahwa "Aku ngga siap dengan pernikahan". Dia berkata setelah kami 3 tahun menikah. Jelas dia ternyata tidak pernah menghitung setiap hal yang aku lakukan untuk dia. Mungkin aku terlalu mudah baginya.

    Saat dia berkata seperti itu, aku mulai menyadari banyak hal. Aku mulai mempertanyakan banyak hal. Kemudian yang paling fatal adalah aku mulai meragukan keputusanku. "Apa iya kita belum siap untuk pernikahan?".

    Jika dihitung sudah hampir 10 tahun kami bersama dari mulai pacaran hingga pernikahan, hampir bercerai dan hanya tinggal sisa 1 kesempatan lagi untuk kami benar-benar berpisah. Kesempatan yang dia sengaja lewatkan dan secara sadar menggunakan kesempatan itu. Tidak terasa aku semakin kesepian.

    Katanya kita akan kehilangan excitement dalam pernikahan, saat kita tidak lagi bergairah, tidak lagi bersemangat dan saat kita mulai mengabaikan pasangan kita. Tapi hal itu bisa diperbaiki jika masing-masing berusaha untuk selalu terkoneksi.

    Problem ini yang aku rasa tidak ada jalan keluarnya. Saat aku mencoba menyampaikan hal ini, dia dengan 1000 alasan selalu berdalih yang pada akhirnya aku yang harus mengerti dia. Ini karena kesalahanku. "Aku bukan kamu yang bisa terbiasa bangun pagi". "Kenapa kamu nyuruh aku tidur sedangkan aku pasti susah bangun". "Kenapa pas kamu kerja setiap hari ke jakarta aku ga pernah telat?".

    Aku merasa kita tidak bertemu dalam timeline yang sama, pun ketika iya maka akan terasa berat baginya. Aku selalu membayangkan punya kehidupan yang normal, bangun pagi bersama pasangan, siapin makan pagi sedangkan suami bantu beres-beres rumah atau sekedar cuci kendaraan kami, lanjut nonton atau sekedar bercengkrama bersama kemudian kami bisa pergi jalan-jalan ke mall atau sekedar cari cafe untuk nongkrong.

    Hampir setiap hari dia begadang, entah apa yang dia lakukan pada malam hari. Sempat beberapa kali aku melihat dia sedang berkirim pesan, tapi aku memilih untuk mengabaikan. Aku sudah terlalu lelah mempermasalahkan hal seperti itu. Aku sedang menjaga kewarasanku, aku kapok berobat sampe ke neurology karena sakit kepala yang tidak kunjung hilang. Setiap hari aku harus mengatur waktu kuliah, bekerja, mencuci baju, mencuci piring, memasak dan lain-lain. Di sela-sela itu, aku butuh hiburan tapi dia selalu fokus pada dirinya sendiri. Dia memilih lebih banyak tidur, main hape, begadang, main game, entah apalah itu.

     Sebetulnya aku merasa sangat kesepian. Bangun dipagi hari, berdiam dirumah, nonton drakor atau hal lain yang membuat sakit kepala jika terlalu lama. Ada sedikit hal jahat dalam pikiranku, syukurlah saat ini aku belum dikaruniai anak. Aku tidak mau anakku merasakan kesepian sama seperti aku. Aku tidak mau anakku suatu saat nanti dikatain "Aku belum siap punya anak". Pun aku belum tentu siap merawatnya sendirian sedang suamiku masih tidur dan memilih dunianya sendiri.

    Aku ingin jalan, nongkrong, perawatan muka, belanja baju, gym, bikin konten, banyak deh pokonya. Tapi apa daya, aku harus menunggu berjam-jam hingga suamiku bangun dan seringkali dia bangun disore hari dan ketika ingin berangkat hampir semua sudah tutup. Aku juga ingin dandan, foto-foto hehehe. Merasa cantik setidaknya ketika pergi jalan-jalan.

    Terkadang aku menangis sendirian, tapi yaaaa dia pun pasti tidak peduli akan hal itu. Bukan karena aku menangis nya tapi karena bukan aku orangnya. Aku merasa dia salah pilih, kenapa harus memilih aku. Aku penasaran selama di bali, apakah dia bangun pagi?. Apakah dia memanfaatkan waktunya dengan baik?.

Aku kesepian, benar-benar sepi. Aku ingin hidup normal dan memiliki timeline waktu yang sama.

Mungkin suatu saat dia akan memahami, tapi kapan? berapa lama aku harus menunggu? dan apakah aku sanggu menunggunya?