Monday, October 6, 2025

Bali.

Seperti ketika kita mendengarkan suatu lagu dan akan membawa kita ke suatu moment tertentu.

Aku yakin, saat kamu sampai di Bali, memory itu akan membawamu ke saat itu. Saat dimana kamu benar-benar bahagia.

Mungkin, bahagiamu saat itu adalah yang pertama dan sulit untuk kamu lupakan.

I don't want to be innocent and I really know exactly that feelings.

Kalau aku bisa, aku tidak mau menghubungimu selama kamu di Bali.

Trauma.

Kamu membiarkan aku sendiri saat itu, merasa tidak dicintai sama sekali, sendirian.

Selamat bernostalgia ya.


Dengan banyak kejanggalan, aku entah kenapa yakin kalau kamu disana janjian sama seseorang.

Siapapun itu, aku tidak peduli.

Tuesday, March 18, 2025

Maret yang kesekian.

Aku mulai membenci hal-hal kecil.

Semua terasa mengganggu dan menyebalkan.

Satu kecupan di bibir dan pipi selalu terasa getir.

Sentuhan melepas peluh tak lagi bersambut mesra.

Ruang yang selalu tersedia untuk bersedih. Satu sudut di pojokan perasaan yang hancur berkeping-keping. Satu keping, aku mengandalkan itu untuk maret yang kesekian.

Terkadang pesimis. Sepertinya aku tidak akan bertahan sampai akhir. Dalam sendiri, dalam hening, dalam tangis dan dalam gundah ini aku selalu pesimis.

Entah siapa yang salah, jawaban yang tak dapat dijawab dengan angka dan waktu.

Hanya cinta yang bisa menjawabnya. Hanya takdir yang bisa menyatukan dan menghadirkan.

Selamat maret yang kesekian.

Sampai saat ini aku masih merasa bahwa kamu hanya berusaha melanjutkan hidup. Maka itu aku selalu merasa bahwa cinta sudah tak pernah hadir sejak beberapa tahun lalu.

Kebetulan aku yang tersedia dan kamu yang membutuhkannya.

Wednesday, May 15, 2024

Satu Like Bermakna.

Hari ini, sesuatu membawaku ke masa dimana kesedihan tak berujung ini dimulai.

Hey, how are you there?

Aku minta maaf ya, harusnya kamu masih hidup dan menjalani hidup bahagia bersama suamiku.

Harusnya bukan aku.

Aku kadang membayangkan, kiranya aku akan jadi apa jika bercerai dan hidup sendiri.

Mungkin saat ini aku menjalani hidup yang berbeda.

Sendiri, tabungan yang banyak, traveling, beres S2 cumlaude.

Sedikit demi sedikit dengan air mata yang membersamai, aku akan terus berjalan dan bertumbuh.

Mungkin, tidak akan ada kekhawatiran dalam diriku seperti hari ini. Aku takut diselingkuhi lagi.

Tapi pastinya, kamu akan hidup bahagia dengan suamiku.

Mulai meniti hidup kalian dan saling bersandar. 

Tentunya dengan bercumbu setiap hari seperti yang kalian impikan.

Aku iri. Bahkan dengan membacanya, aku sudah membayangkan hidup yang bahagia dan menarik.

Hari ini aku melihat suamiku install aplikasi yang mana like foto profil kamu yang cantik itu.

Aku iri dengan kalian yang saling memperjuangkan dan diusahakan. Saling mengagumi.

Aku selalu berharap jika kita akan dilahirkan kembali, aku ingintakdir berbeda. Aku berdoa kalian bertemu dalam takdir yang indah, bersama dan berakhir bahagia.

Sementara aku, aku ingin takdir lain.

Aku ingin memperbaiki diri, aku ingin diriku yang berbeda, aku tidak ingin bertemu mantan ku pas SMA, aku tidak mau bertemu suamiku juga. Juga, aku tidak mau mempunyai takdir bersinggungan denganmu.

Aku selalu merasa sepi.

Semakin sini aku merasa kosong.

Suamiku udah mulai kembali ke habit nya yang dulu, main hape dan laptop secara sembunyi sembunyi. Entah apa yang di lakukannya.

Suasana takut dan mencekam setiap malam menyelimutiku.

Aku takut.

Berandai kita bertukar tempat, sehingga aku tidak akan mengalami ketakutan ini setiap malamnya.

Hari ini, suamiku bilang aku sombong dan sok tau.

Dan katanya ini sudah berlangsung dari dulu.

Aku yakin, suamiku emang memendam sesuatu yang dia tidak bisa bicarakan denganku. Hanya denganmu dia bisa terbuka, bukan bersamaku.

Aku merasa bersalah atas semua yang terjadi.

Friday, February 16, 2024

Timeline kita yang berbeda.

    Aku merasa tidak pernah menyesali keputusanku, menjadi orang bertanggung jawab adalah hal yang selalu aku tanamkan dalam diriku.

    Pada umur 24 tahun, aku memutuskan menikah. Saat itu aku merasa tidak ada yang salah. Aku mengambil satu tanggung jawab yang aku harus jalani, sungguh-sungguh. Tidak pernah sekalipun aku merasa belum siap atau bahkan menyesali keputusanku.

    Aku berusaha menjadi istri yang baik yang mendukung suaminya. Aku ikut kemanapun dia pergi dan aku sangat berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku berusaha bekerja, mencari kesibukan sendiri. Siapa bilang itu mudah? dengan aku bisa melewatinya bukan berarti itu tidak sulit untuk dijalani.

    Hingga sampai pada suatu momen yang mana dia berkata bahwa "Aku ngga siap dengan pernikahan". Dia berkata setelah kami 3 tahun menikah. Jelas dia ternyata tidak pernah menghitung setiap hal yang aku lakukan untuk dia. Mungkin aku terlalu mudah baginya.

    Saat dia berkata seperti itu, aku mulai menyadari banyak hal. Aku mulai mempertanyakan banyak hal. Kemudian yang paling fatal adalah aku mulai meragukan keputusanku. "Apa iya kita belum siap untuk pernikahan?".

    Jika dihitung sudah hampir 10 tahun kami bersama dari mulai pacaran hingga pernikahan, hampir bercerai dan hanya tinggal sisa 1 kesempatan lagi untuk kami benar-benar berpisah. Kesempatan yang dia sengaja lewatkan dan secara sadar menggunakan kesempatan itu. Tidak terasa aku semakin kesepian.

    Katanya kita akan kehilangan excitement dalam pernikahan, saat kita tidak lagi bergairah, tidak lagi bersemangat dan saat kita mulai mengabaikan pasangan kita. Tapi hal itu bisa diperbaiki jika masing-masing berusaha untuk selalu terkoneksi.

    Problem ini yang aku rasa tidak ada jalan keluarnya. Saat aku mencoba menyampaikan hal ini, dia dengan 1000 alasan selalu berdalih yang pada akhirnya aku yang harus mengerti dia. Ini karena kesalahanku. "Aku bukan kamu yang bisa terbiasa bangun pagi". "Kenapa kamu nyuruh aku tidur sedangkan aku pasti susah bangun". "Kenapa pas kamu kerja setiap hari ke jakarta aku ga pernah telat?".

    Aku merasa kita tidak bertemu dalam timeline yang sama, pun ketika iya maka akan terasa berat baginya. Aku selalu membayangkan punya kehidupan yang normal, bangun pagi bersama pasangan, siapin makan pagi sedangkan suami bantu beres-beres rumah atau sekedar cuci kendaraan kami, lanjut nonton atau sekedar bercengkrama bersama kemudian kami bisa pergi jalan-jalan ke mall atau sekedar cari cafe untuk nongkrong.

    Hampir setiap hari dia begadang, entah apa yang dia lakukan pada malam hari. Sempat beberapa kali aku melihat dia sedang berkirim pesan, tapi aku memilih untuk mengabaikan. Aku sudah terlalu lelah mempermasalahkan hal seperti itu. Aku sedang menjaga kewarasanku, aku kapok berobat sampe ke neurology karena sakit kepala yang tidak kunjung hilang. Setiap hari aku harus mengatur waktu kuliah, bekerja, mencuci baju, mencuci piring, memasak dan lain-lain. Di sela-sela itu, aku butuh hiburan tapi dia selalu fokus pada dirinya sendiri. Dia memilih lebih banyak tidur, main hape, begadang, main game, entah apalah itu.

     Sebetulnya aku merasa sangat kesepian. Bangun dipagi hari, berdiam dirumah, nonton drakor atau hal lain yang membuat sakit kepala jika terlalu lama. Ada sedikit hal jahat dalam pikiranku, syukurlah saat ini aku belum dikaruniai anak. Aku tidak mau anakku merasakan kesepian sama seperti aku. Aku tidak mau anakku suatu saat nanti dikatain "Aku belum siap punya anak". Pun aku belum tentu siap merawatnya sendirian sedang suamiku masih tidur dan memilih dunianya sendiri.

    Aku ingin jalan, nongkrong, perawatan muka, belanja baju, gym, bikin konten, banyak deh pokonya. Tapi apa daya, aku harus menunggu berjam-jam hingga suamiku bangun dan seringkali dia bangun disore hari dan ketika ingin berangkat hampir semua sudah tutup. Aku juga ingin dandan, foto-foto hehehe. Merasa cantik setidaknya ketika pergi jalan-jalan.

    Terkadang aku menangis sendirian, tapi yaaaa dia pun pasti tidak peduli akan hal itu. Bukan karena aku menangis nya tapi karena bukan aku orangnya. Aku merasa dia salah pilih, kenapa harus memilih aku. Aku penasaran selama di bali, apakah dia bangun pagi?. Apakah dia memanfaatkan waktunya dengan baik?.

Aku kesepian, benar-benar sepi. Aku ingin hidup normal dan memiliki timeline waktu yang sama.

Mungkin suatu saat dia akan memahami, tapi kapan? berapa lama aku harus menunggu? dan apakah aku sanggu menunggunya?

Thursday, October 12, 2023

Sedih yang tidak berkesudahan.

 Ngomongin tentang perasaan dicintai, rasanya aku sudah mengubur harapan itu.

Impian hidup di rumah tangga yang saling membutuhkan dan dicintai sampai akhir hayat rasanya tidak pernah lagi menjadi impianku.

Aku merasa hampa.

Wondering apakah ini salah satu Do'a dia dikala sang malaikat maut menjemputnya?

Dimana aku akan merasa tidak bahagia dan merasa tidak dicintai oleh laki-laki yang dicintainya untuk yang terakhir kali baginya.

____

Bagaimana rasanya menjalani biduk rumah tangga tanpa perasaan tidak berharga? Bagaimana rasanya menjadi perempuan yang dicintai dan di prioritaskan?

Rasanya, aku sangat jauh dari itu.

Entah mengapa, Aku merasa bahwa aku pantas diperlakukan seperti itu.

______

Rasanya lelah,

Bekerja

Kuliah

dan paling utama adalah pikiran yang rasanya tidak pernah tenang,

______

Saat sendirian, intensi aku untuk melukai diri semakin tinggi.

Aku merasa bersalah,

harusnya aku saat ini sendirian kerja di jakarta, tidak punya pasangan.

_______

Mohon maaf.

Semoga di lain waktu, kalian akan bahagia.

Akupun berharap, aku tidak akan pernah bertemu kalian.

Tuesday, June 6, 2023

Happy Birthday!

This year lil bit different for me,
I don't deserve the things today.
But I appreciate all good deeds for me. Thank you.

I bear a meaning of this year as "reconcile oneself".
The time when I realize to more understand about myself and to let everything happen as it should be.
No questions, just acceptance.

In fact, we are all alone, nothing last forever. Even you and yourself, one day you will be separated by fate.
I just want to live happily day by day, hours by hours, minutes by minutes...

The way to reach all the grandiose wishes is accept all the good and bad things first.
It called tawakal. When we believe in His fate first before we start to beg something from Him or doing some act for reach the goals.

Again,
Happy birthday.

My beloved TM